Ketua IMEKKO Bersatu PBD Soroti Kinerja MRP PBD

Ketua IMEKKO Bersatu PBD Soroti Kinerja MRP PBD

Sorong, doberainews – Ketua Forkom Imekko Bersatu Papua Barat Daya menyoroti Kinerja MRP Papua Barat Daya. Menurutnya, sejak dilantik hingga saat ini MRP, disebut belum memberikan kerja nyata untuk melindungi, menegakan dan memberdayakan hak – hak masyarakat adat di setiap Kabupaten se Provinsi Papua Barat Daya.

“Sejak lantik sampai saat ini belum ada program kerja yang jelas di setiap Kabupaten/Kota. Salah satunya adalah reses MRP dan saat ini seperti tidak ada kegiatan apa -apa. Contohnya, hari masyarakat adat sedunia 9 Agustus 2024, MRP tidak melihat persoalan-persoalan kursial yang terjadi di masyarakat Adat Papua,”ucap Ferry Onim, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Imekko Bersatu Provinsi Papua Barat Daya,

MRP disebut lahir ebagai respresentasi masyarakat adat dalam pemerintahan namun belum memberikan dampak lebih kepada masyarakat. “Lembaga ini hadir hanya makan gaji buta saja, uang Otsus habis di Lembaga MRP dan masyarakat OAP tidak merasakan apa – apa,”ujar onim

Onim mengungkap selain statusnya sebagai Ketua Forkom Imekko, ia juga salah satu Perwakilan Kepala Suku Forum Lintas Suku Asli Papua di Provinsi PBD, sehingga ia menilai MRP sejak dilantik pada 14 Desember 2023 hingga saat ini tidak ada Kinerja MRP yang jelas di tengah – tengah masyarakat adat.

Onim, menegaskan apabila MRP PBD saat ini tidak bermanfaat untuk semua Orang Asli Papua, maka mending Lembaga MRP dibubarkan dari pada habiskan dana otsus cuma-cuma.
“saya melihat saat ini tidak ada Penjaringan aspirasi masyarakat. Dan Apa yang nanti menjadi program buat OAP di Provinsi PBD saat ini,”papar Onim.

“Jangan Dana Otsus turun habis saja begitu, persoalan banyak yang terjadi di setiap wilayah adat, ada banyak sekali masalah saat ini. Jangan Sampai waktu kepentingan Politik baru masuk dengan Kerja-Kerja Kotor untuk Saling mengamankan,” sambungnya

Terakhir, Ketua Imekko Papua Barat Daya meminta Anggota MRP untuk memahami kehadiran lembaga MRP karena darah dan nyawa Orang Papua sehingga bagian itu yang harus dihargai,”pungkasnya.

Pewarta Felix Rumpaisum
Editor Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *