Manokwari, doberainews – Bupati Manokwari, Hermus Indou akui Suku Besar Saireri adalah suku yang mengalami transformasi lebih awal pasca peradaban sehingga membawa peradaban bagi suku – suku lainya di Tanah Papua.
“Suku Besar Saireri meliputi Suku Besar Biak, Suku Besar Serui, Waropen dan Sekitarnya adalah suku yang menjadi sulung di Tanah Papua. Mereka adalah suku – suku yang mengalami transformasi peradaban lebih dahulu, karena sebaran mereka di bagian pesisir sehingga mengalami kontak lebih awal dengan dunia luar. Merekalah (Suku Saireri -red) yang membawa transformasi melalui Injil dan Peradaban bagi Suku – suku lainnya di Tanah Papua termasuk Suku Besar Arfak,” ucap Hermus dalam wawancara eksklusif dengan media ini.
Sejak era peradaban, suku – suku pegunungan baik suku Besar Arfak, Maybrat, dan Pegunungan tengah masih terisolasi dari kontak dengan dunia luar sementara suku – suku di pesisir yang mengalami kontak dengan dunia luar. “Setelah mengalami transformasi dan kontak dengan dunia luar maka merekalah yang membawa transformasi itu kepada kita. Jadi kita, anak – anak gunung yang hari ini menjadi pemimpin adalah buah, Perjuangan yang dilakukan oleh keluarga besar Saireri baik Biak, Serui Waropen maupun suku – suku pesisir lainnya,” jelas Hermus.
Bupati Manokwari periode 2019 – 2024 ini mengakui, kehadiran suku – suku Saireri membawa misi pelayanan melalui panggilan injil (Illahi) dan pendidikan bagi suku – suku lainnya di Tanah Papua.
“Mereka hadir dalam dua penggilan yaitu, panggilan ilahi (penginjilan) dan panggilan pendidikan (guru) bagi suku – suku di pedalaman. Termasuk saya juga marupakan buah dari pelayanan suku besar Saireri di Tanah Arfak,”jelasnya.
Hermus lalu mengklarifikasi pernyataan dalam apel pagi di Kantor Bupati yang diduga diviralkan untuk membenturkan dirinya dengan suku besar Biak. Menurutnya, pernyataan tersebut dilontarkan untuk menggambarkan sesama anak adat harus saling menghormati tanpa harus mendiskreditkan sesama anak adat.
“Tidak ada maksud untuk menyinggung suku besar Biak di Manokwari, karena faktanya tidak adanya calon dari suku besar Biak yang maju dalam kontestasi Pilkada. Pernyataan saya hanya menggambarkan, bagaimana kita saling menghargai antar sesama anak adat. Sabab jika orang Papua mau maju, mau mengalami mujizat Tuhan yang lebih lagi, maka mari kita harus lebih awal saling menghargai sebelum saudara – saudara kita dari Nusantara menghargai kita,”pungkasnya. (red/dn)





















