MANOKWARI, doberainews — Keluarga korban dugaan kekerasan di SMA Taruna Kasuari Manokwari mendesak pihak sekolah dan Pemerintah Provinsi Papua Barat mengambil langkah tegas terhadap para pelaku, termasuk memberikan sanksi berat hingga dikeluarkan dari sekolah apabila terbukti terlibat.
Perwakilan keluarga korban Ito Waran, Edy Inyomusi/Waran, menegaskan bahwa tindakan kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah berasrama tersebut tidak boleh ditoleransi karena telah mencederai rasa aman siswa dan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah unggulan milik pemerintah daerah.
“Kami minta pelaku diproses tegas sesuai aturan. Jika terbukti melakukan kekerasan, harus dikeluarkan dari sekolah. Jangan biarkan siswa yang melakukan tindakan brutal tetap berada di lingkungan pendidikan,” tegasnya, dalam rilis kepada media ini, Kamis (23/4/2026).
Keluarga juga mendesak pihak sekolah segera menyampaikan secara terbuka perkembangan penanganan kasus tersebut kepada publik, termasuk keputusan terhadap para pelaku, sebagai bentuk transparansi dan tanggung jawab moral kepada orang tua siswa.
Menurut keluarga, sekolah tidak boleh membiarkan kasus kekerasan berlalu tanpa kepastian hukum dan sanksi yang jelas.
“Kami minta pihak sekolah secara resmi mengumumkan langkah yang sudah diambil terhadap para pelaku. Sekolah unggulan tidak boleh berubah menjadi tempat terjadinya kekerasan antar siswa,” ujarnya.
Keluarga menegaskan, apabila tidak ada penjelasan resmi dalam waktu dekat, pihaknya akan mendatangi sekolah bersama media untuk memastikan proses penanganan kasus berjalan transparan.
“Kami akan datang langsung bersama media untuk memastikan apakah pelaku sudah ditindak atau belum. Jika tidak ada ketegasan, kami minta pemerintah mengevaluasi total pengelolaan sekolah,” katanya.
Kasus kekerasan di SMA Taruna Kasuari sendiri menjadi perhatian luas publik setelah sejumlah media nasional melaporkan adanya dugaan kekerasan yang dilakukan siswa kelas XI terhadap siswa kelas X di lingkungan asrama pada 22 April 2026 malam. Delapan siswa dilaporkan mengalami luka hingga harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
Selain itu, laporan kepolisian juga menyebut jumlah korban dugaan penganiayaan mencapai sekitar 30 siswa, dan proses penyelidikan masih terus berlangsung untuk mengungkap keterlibatan para pelaku.
Informasi lain yang dihimpun media menyebut dugaan kekerasan terjadi secara terorganisasi pada malam hari di lingkungan asrama dan menyebabkan sejumlah siswa mengalami luka serius, termasuk memar dan patah tulang.
Keluarga korban menilai kasus tersebut harus menjadi momentum evaluasi total terhadap sistem pembinaan, pengawasan, dan keamanan di lingkungan SMA Taruna Kasuari agar tidak ada lagi siswa yang menjadi korban kekerasan di sekolah berstatus unggulan tersebut.
“Kami tidak ingin ada korban berikutnya. Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak Papua untuk belajar dan dibina, bukan tempat mereka mengalami kekerasan,” tegas pihak keluarga. (rls).





















