Filosofi Rumah Kaki Seribu dan Noken Arfak, Merajut Perbedaan Dalam Visi Manokwari Untuk Semua

Filosofi Rumah Kaki Seribu dan Noken Arfak, Merajut Perbedaan Dalam Visi Manokwari Untuk Semua

Pengurus PWI Papua Barat saat Audience dengan Bupati Manokwari, Hermus Indou di ruang kerjanya.

Opini ini ditulis oleh

Jems Aisoki,S.Sos/
Wartawan Media doberainews.com

Manokwari, –  Kabupaten Manokwari, saat ini merupakan Ibukota Provinsi Papua Barat. Sejak dulu, Manokwari dikenal dengan julukan Kota buah – buahan karena memiliki hamparan dataran yang luas, cocok untuk pengelolaan perkebunan dan pertanian.

Selain julukan itu, Manokwari merupakan kota pemerintahan tertua di Tanah Papua, ditandai dengan pelantikan J.J. Van Oosterszee sebagai Controleer Afdeling Noord Nieuw Guinea yang berkedudukan di Manokwari oleh Residen Ternate, Van Horst atas nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tanggal 8 November 1898.

Manokwari juga dikenal sebagai Kota Peradaban, karena menyimpan sejarah pekabaran Injil melalui dua sendeling asal Eropa Jhon Gotlob Geisler dan Carl Wiliam Ottow menginjakan kaki pertama di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855.

Esksisten Manokwari sebagai kota Historical dengan memiliki nilai religius ini menjadi salah satu kota yang menarik berbagai suku dari Tanah Papua untuk berhijrah dan menetap di Kabupaten Manokwari.

Secara antrpologis, Kabupaten Manokwari dihuni oleh beberapa suku asli yakni Suku Besar Arfak yang mendiami pedalaman Manokwari dan suku Doreri – Numfor dan Wamesa yang mendiami pesisir Pantai Manokwari.

Manokwari hari ini menjadi rumah bagi beragam macam suku di Tanah Papua dan Indonesia pada umumnya. Selain Kota Jayapura dan Sorong, Manokwari telah menunjukan perkembangannya sebagai Kota Metropolitan nan Heterogen.

Menjadi kota yang maju dan berkembang, Manokwari membutuhkan sosok pemimpin yang mampu merangkul semua kalangan, suku, agama dan ras dengan karakteristik dan cara yang pandang berbeda – beda dalam suatu tatanan pemerintahan.

Mewujudkan pembangunan yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, suku dan agama, setiap pemimpin menawarkan konsep pembangunan sebagai visi besar dalam menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Sebagai Bupati Kabupaten Manokwari periode 2019 – 2024, Hermus Indou menawarkan visi “Manokwari untuk semua dan semua untuk Manokwari”. Visi ini, menurut Hermus, telah tertanam dalam kebudayaan suku Arfak dengan filosofi Rumah Kaki Seribu dan Noken Arfak.

Filosofi tersebut, sebagai model mewujudkan pemerintahan yang bersih, transparan dan melayani sebagai modul pembangunan yang menyentuh semua kalangan dan merangkul semua kalangan sebab mewujudkan kesejahteraan masyarakat  membutuhkan tata kelola pemerintahan yang transparan, efektif dan efesien, tepat guna dan tepat asas.

Dalam diskusi singkat dengan kunjungan Pengurus  Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Papua Barat di ruang kerjanya, (5/8)
Hermus memaparkan berbagai hal dalam mewujudkan pembangunan Kabupaten Manokwari yang maju, berdaya saing, modern dan sejahtera.

Hermus mengungkap arsitektur rumah kaki seribu dengan banyak tiang penopang dengan memiliki rumah tanpa kamar tersebut menunjukan bahwa filosofi orang Arfak yang terbuka dan transparan karena didukung oleh banyak pilar.

“Dalam rumah kaki seribu itu, hanya satu kamar kecil dibuat untuk pemilik rumah dan istrinya. Sementara dalam bangunannya yang terbuka sehingga ada makanan pasti semua orang dalam rumah tahu, dan kebagian makanan tersebut. Disisi lain, dengan bangunan yang ditopang berbagai tiang/pilar menunjukan bahwa rumah (bangunan) harus didukung semua pihak agar bisa kuat berdiri,”ungkap Hermus.

Hermus juga memaparkan tentang Noken Anyaman Suku Arfak dari kulit kayu dengan struktur yang terbuka dan berjaring. “Noken Arfak itu terbuka (berjaring), jadi ketika orang isi makanan dalam noken, pasti diketahui semua orang, karena terbuka atau transparan,”ungkapnya.

Dengan filosofi itu, maka visi “Manokwari untuk semua dan semua untuk Manokwari” menunjukan bahwa pembangunan Kabupaten Manokwari yang notabene adalah kota peradaban harus didukung, dibangun oleh semua suku, semua kalangan, semua golongan  yang berdomisili  di Kabupaten Manokwari. Tidak dibangun oleh satu suku  melainkan semua suku, karena Manokwari adalah masa depan bersama, dan rumah kita bersama.

Disisi lain, dengan konsep  tersebut membutuhkan asas transparansi sebagai wujud keterbukaan, wujud manajemen pemerintahan yang melayani untuk menghadirkan kesejahteraan bersama.

Mantan Kepala Biro Kesrah Provinsi Papua Barat ini menerangkan Manokwari membutuhkan sentuhan lebih dari pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah Provinsi dan kabupaten karena berstatus sebagai Kota Peradaban di Tanah Papua. Dimana model pembangunan harus setara, berkembang, dan modern dengan iklim demokrasi yang lebih sehat karena menunjukkan kemajuan Papua diberbagai bidang.

Sentuhan itu telah diperlihatkan oleh Bupati Hermus dalam 4 Tahun kepemimpinannya dengan membuktikan pembangunan infrastruktur di Kota Manokwari. Berbagai proyek mercusuar telah dibangun, mulai dari perpanjang runway Bandara Rendani, alih trase Jalan Bandara Rendani, pembangunan Pasar Sanggeng sebagai icon Pasar Modern di Tanah Papua, pembangunan Ruang Terbuka Publik (RTB) Borasi dan pembangunan Gedung Wanita sebagai sarana ruang publik bagi berbagai kegiatan – kegiatan sosial kemasyarakatan.

Berbagai  strategi pembangunan kota Manokwari sebagai kota ramah lingkungan, dengan melakukan evaluasi terhadap tata ruang Manokwari masih terus dibenahi, serta mengembalikan status Manokwari sebagai kota buah – buahan, pengembangan potensi wisata, baik destinasi wisata alam, wisata religi dan budaya, pengembangan UMKM, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Papua.

Disamping itu, komitmennya untuk membuka lahan pemukiman baru masih terus diupayakan dalam merelokasi kawasan kumuh dan padat penduduk ke berbagai kawasan yang kurang padat penduduk. Penyediaan Air bersih, penataan lingkungan yang sehat dan pelayanan pendidikan serta kesehatan murah dan berkualitas bagi masyarakat.

Hermus juga berkomitmen untuk terus memelihara kerukunan umat beragama dengan memberikan berbagai bantuan hibah bagi rumah – rumah ibadah, menjamin kebebasan berekpresi, demokrasi dan penegakan supermasi hukum serta keterbukaan informasi bagi pelayanan pemerintahan yang bersih (good Government), dan transparan.

Kini, Hermus maju kembali dalam ajang Pilkada 2024 – 2029 untuk mewujudkan sisa cita – citanya dalam menjadikan visi misi besar “Manokwari menjadi rumah bersama” bagi semua suku, ras dan agama di Kota Peradaban Papua, Kabupaten Manokwari, Ibu Kota Provinsi Papua Barat.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *