Wondama, doberainews – Di tanah Aitumeri, cahaya obor kembali menyala. Seratus tahun setelah kata profetis Dominee Isak Samuel Kijne diucapkan, Bangsa Papua kini berdiri di gerbang peradaban baru, meneguhkan kesadaran kolektif sebagai satu keluarga besar rumpun Melanesia — ciptaan Tuhan yang berdaulat atas tanah dan manusianya sendiri.
Refleksi Abad Pertama: Jejak Ilahi di Tanah Leluhur
Dalam rilis yang diterima doberainews, Yohanes L. Ronsumbre, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Adat Papua, menyampaikan rasa syukur atas karya keselamatan Tuhan dalam perjalanan panjang sejarah orang Papua.
“Kini saatnya kita memaknai kembali nubuatan penuh hikmat dari Dominee Kijne — baik di atas batu peradaban Aitumeri maupun di atas kapal yang membawanya pulang ke Belanda. Sebab di sanalah roh kebangkitan orang Papua diletakkan,” ujarnya penuh refleksi.
Warisan Profetis Dominee Isak Samuel Kijne
Lebih dari sekadar kata, pesan Kijne menjadi fondasi spiritual bagi masa depan Papua:
“Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi dan akal budi, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, sebab bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”
Ia menubuatkan masa di mana tanah Papua akan diperebutkan oleh kepentingan politik dan ekonomi, namun menegaskan — kasih sayang dan kejujuranlah yang akan menumbuhkan manusia Papua sejati.
Panggilan Iman dan Moral Bangsa Papua
Pada puncak perayaan 100 tahun Peradaban Orang Papua di Aitumeri, Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu, M.Th, kembali menghidupkan pesan profetis itu sebagai panggilan moral dan rohani bagi seluruh anak bangsa.
Ia menegaskan bahwa memasuki abad ke-II peradaban Papua, ketaatan kepada firman Tuhan menjadi fondasi utama:
“Bangsa ini harus terus membaca, merenungkan, dan menghidupi Firman. Belajar saling mendengar, saling mengasihi — maka berkat Tuhan akan tercurah atas Tanah Papua.”
Obor Aitumeri: Simbol Roh Kudus dan Kebangkitan Baru
Dalam prosesi sakral di Aitumeri, api obor peradaban dinyalakan — bukan sekadar ritual, tetapi simbol kebangkitan spiritual dan kebersamaan adat Papua menuju masa depan yang penuh harapan.
Adrian Warengga, Ketua Dewan Adat Daerah Wondama, memaknai obor ini sebagai tanda persatuan tujuh wilayah adat: Tabi, Saireri, Doberay, Bomberay, Meepago, Lapago, dan Anim-Ha.
“Obor ini adalah api Roh Kudus yang membakar semangat kita untuk menjadi tuan di tanah sendiri. Ini adalah tanda kebangkitan pendidikan, iman, dan peradaban baru yang lahir dari kasih dan pengorbanan leluhur,” ujarnya.
Dari Aitumeri, Cahaya Papua Menyala untuk Dunia
Momentum ini bukan sekadar perayaan sejarah, melainkan deklarasi masa depan: Papua memasuki abad baru dengan tekad untuk bangkit, bersatu, dan membangun dirinya sendiri.
Di tengah arus global yang kian cepat, Dewan Adat Papua mengajak seluruh anak adat — di tanah leluhur maupun di perantauan — untuk meneguhkan kesadaran sebagai satu tubuh, satu roh, satu bangsa.
“Mari kita jaga tanah ini dengan kasih, bangun manusia Papua dengan pengetahuan, dan wariskan peradaban yang berakar pada iman dan martabat kepada generasi mendatang.”
Panggilan Menuju Abad ke-II: Papua Bangkit dalam Kasih dan Kemandirian
Memasuki abad ke-II peradaban, Dewan Adat Papua menyerukan kesadaran kolektif baru:
Bangsa Papua harus berdiri di atas nilai-nilai kasih, keadilan, dan kebenaran — menjadi bangsa yang membangun diri dengan hati, bukan sekadar sumber daya.
“Hanya dengan ketaatan pada firman Tuhan dan persatuan hati, bangsa Papua akan bangkit menjadi peradaban baru yang beriman, bermartabat, adil, dan damai,” seru Ronsumbre.
Penutup: Papua Diberkati
Seruan ini ditutup dengan doa dan pengharapan bersama para pemimpin adat Papua dari berbagai wilayah.
Dari Aitumeri — batu tempat peradaban diletakkan — cahaya baru menyala, menandai langkah bangsa Papua menatap masa depan dengan keyakinan:
“Wondama untuk Papua, dan Papua untuk dunia.” Papua diberkati.
Tanah dan manusia Papua milik Tuhan.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Yohanis L. Ronsumbre (Wasekjen DAP), Caroline Woisiri (Perempuan Adat Papua), Zakarias Horota (Sekretaris DAP III Doberay ), Yakonias Wabrar (Perwakil DAP Tabi), Adrian Worengga (Ketua DAS Wondama), Yunus Wurumi (Ketua DPP Pemuda Adat Papua), Godlief Baransano (Ketua BPP KAPP), Albert Bilasi (Wakil Pimpinan DAP Mamberamo Raya), Yan Kamisopa (Wakil DAP Bintuni ), Elieser Matuin(Wakil DAP Yapen), Mananwir Toni Kapisa (Wakil DAP Byak). (rls)





















